Tampilkan postingan dengan label Seni budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni budaya. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Mei 2011
batik
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. [
Selasa, 29 Maret 2011
Gambar Proyeksi dan Perspektif
Kata proyeksi secara umum berarti bayangan. Gambar proyeksi berarti gambar bayangan suatu benda yang berasal dari benda nyata atau imajiner yang dituangkan dalam bidang gambar menurut cara-cara tertentu. Cara-cara tersebut berkenaan dengan arah garis pemroyeksi yang meliputi sejajar (paralel) dan memusat (sentral). Arah yang sejajar terdiri atas sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar dan sejajar akan tetapi miring terhadap bidang gambar.
Gb.1. Contoh pandangan sejajar tegak
Secara umum berbagai jenis gambar proyeksi dan perspektif tersebut difungsikan sebagai sarana komunikasi dalam bentuk pictorial. Benda kongkret yang ada, misalnya meja atau kursi, digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain. Benda imajiner (khayalan penggambar), misalnya meja atau kursi yang sebelumnya tidak ada digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain misalnya tukang atau pemesan. Gambar proyeksi dan perspektif lebih banyak menampilkan benda imajiner, oleh karena itu sangat bermanfaat dalam bidang perencanaan.
1. Proyeksi Ortogonal (Eropa)
Penampilan gambar proyeksi Eropa relative sederhana dibandingkan dengan yang lain. Gambar ini menampilkan pandangan atas, depan (muka), dan samping. Oleh karena itu proyeksi Eropa sangat tepat digunakan untuk kepentingan perancangan mebel atau desain produk.
Sistem gambar proyeksi Eropa dihasilkan dari pemroyeksian pada ruang atau sudut pertama (first angel). Oleh karena itu proyeksi Eropa sering disebut proyeksi “Kuadran Pertama” atau “Kuadran I”. Ruang atau sudut penampilan tersebut berbentuk tiga dimensi, yang terdiri atas 3 bidang, yakni bidang I, II, dan III. Bidang I berfungsi untuk menampilkan bayangan benada tampak dari atas, bidang II untuk bayangan benda tampak depan, dan bidang III untuk bayangan benda tampak dari samping kiri. Oleh karena itu proyeksi Eropa sering dikelompokkan dalam proyeksi multiview (tampak ganda).
Jika diperhatikan sistem proyeksi Eropa ini menempatkan posisi benda/obyek yang digambar berada di antara titik pengamat (proyektor) dan proyeksi benda. Jika diurutkan maka posisi tersebut adalah pengamat, objek, dan gambar proyeksi. Posisi pengamat terhadap bidang gambar adalah tegak lurus. Di samping itu, masing-masing garis pemroyeksi yang merupakan hubungan dari titik pengamat dan benda sehingga menghasilkan proyeksi tersebut adalah sejajar sesamanya.
Gb.3. Ruang dalam proyeksi Eropa yang dibentangkan menjadi bidang datar.
Gb 4. Sumbu proyeksi Eropa yang terbentuk karena rebahan ruang.
Gb. 5. Contoh cara memproyeksikan sebuah titik.
Gb.6. Contoh benda berupa kubus yang diproyeksikan dengan cara Eropa.
2. Proyeksi Aksonometri
Proyeksi Aksonometri tergolong jenis proyeksi sejajar (paralel) dan juga tegak (ortogonal). Perbedaannya dengan proyeksi Eropa terutama adalah dalam penampilan tampak. Dalam proyeksi Aksonometri diupayakan untuk penampilan tampak atas, depan, dan samping dalam satu kesatuan gambar tidak seperti dalam proyeksi Eropa yang terpisah oleh bidang-bidang. Gambar proyeksi Aksonometri menampilkan objek gambar baik yang kongkret maupun imajiner ke dalam bayangan tiga dimensi, oleh karena itu aksonometri tergolong jenis proyeksi piktorial.
Jenis proyeksi Aksonometri dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
- Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri adalah jenis proyeksi aksonometri berpenampilan tiga dimensi atau piktorial dengan besaran sudut masing-masing 120 0, dan perbadingan masing-masing ukuran tinggi, panjang, dan dalam yaitu 1:1:1. Besar sudut sumbu 1200 dapat digunakan alternatif dibuat sudut 300 terhadap horisontal (baik sudut kanan maupun kiri)
b. Proyeksi Dimetri
Penggunaan isometri seringkali menyebabkan distorsi pada gambar yang ditampilkan, dan garis-garis yang berimpit. Kelemahan ini dapat ditanggulangi dengan proyeksi dimetri. Dimetri artinya ada dua jurusan sumbu yang sama panjang. Pada dimetri perbandingan yang sama terdapat pada dimensi tinggi dan panjang. Perbandingan yang lazim digunakan yaitu 2:2:1 atau 3:3:1 Perbandingan ini diikuti dengan konsekuensi pada sudut objek yang digambar terhadap garis horizon yaitu 41,4 derajat untuk sudut sebelah kanan dan 7,2 derajat untuk sudut sebelah kiri.
Gb. 8. Tampilan gambar dimetri.
c. Trimetri
Penggunaan proyeksi dimetri ternyata dirasakan banyak terjadi distorsi, oleh karena itu ukuran kedua rusuk/sumbu salah satunya (rusuk panjang) perlu dipendekkan, sehingga perbandingan yang sering digunakan adalah 10:9:5 atau 6:5:4.
Gb. 9. Tampilan gambar Trimetri.
3. Gambar Perspektif
Dalam penglihatan kita sehari-hari, benda-benda yang letaknya lebih dekat dengan mata terlihat lebih besar dan benda-benda yang terletak lebih jauh dengan mata terlihat lebih kecil. Semakin jauh letak benda dari mata kita, benda itu akan terlihat semakin kecil hingga akhirnya hanya tampak sebagai titik saja. Demikian juga dua benda atau lebih yang letaknya sejajar dan membujur menjauhi kita, semakin jauh dari mata, keduanya akan terlihat semakin berdekatan hingga akhirnya saling berimpit dan akan menjadi satu titik.
Gb. 9. Konstruksi gambar perspektif
Seperti halnya dalam proyeksi Eropa maka dalam gambar perspektifpun diupayakan agar bidang-bidang yang semula saling berpotongan harus dibentangkan menjadi bidang datar. Pembentangan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini. Bidang mata dibentangkan ke atas menjadi sejajar dengan bidang tafrir, begitu juga dengan bidang tanah yang dibentangkan ke bawah menjadi sejajar dengan bidang tafrir.
Gb.10. Bidang hasil pembentangan bidang mata dan bidang tanah menjadi sejajar bidang tafrir.
Selanjutnya, untuk kepentingan menggambar perspektif bidang itu menjadi disederhanakan seperti di bawah ini
Gb.11. Posisi mata, distansi, tinggi tafrir, garis horizon, dan garis tanah.
Gb.12. Contoh sebuah titik yang diproyeksikan dengan gambar perspektif
1. Perspektif satu titik lenyap (one point perspective)
Sistem perespektif ini digunakan untuk menggambar obyek (benda) yang terletak relatif dekat dengan mata. Karena letak obyek yang cukup dekat, akibatnya mata memiliki sudut pandang yang sempit, sehingga garis-garis batas benda akan menuju satu titik lenyap saja, kecuali bila sejajar dengan horizon dan tegak lurus terhadapnya. Gambar yang demikian sering disebut dengan paralel perspective sebab banyak menggunakan garis-garis bantu yang sejajar horizon dan vertikal. Penerapan gambar ini banyak digunakan pada gambar rancang bangun (desain) interior.
2. Perspektif dua titik lenyap (two point perspective)
Sistem gambar ini digunakan untuk menggambarkan benda-benda yang letaknya relatif jauh dan letaknya tidak sejajar (serong) terhadap mata pengamat. Karena posisi pengamat jauh dengan obyek maka sudut pandang mata melebar, akibatnya garis-garis batas benda akan menuju titik lenyap sebelah kiri dan kanan. Gambar ini banyak digunakan untuk desain eksterior.
3. Perspektif tiga titik lenyap (three point perspective)
Gambar perspektif ini muncul akibat benda/obyek yang diamati jauh di bawah atau ke atas horizon. Oleh karenanya sudut pandang mata melebar ke segala arah. Perspektif ini banyak digunakan untuk menggambar arsitektur bangunan yang serba tinggi.
Jika kita mengamati gambar di atas, titik A pada bidang tafrir yang merupakan titik pertemuan garis mata dengan kedudukan titik tersebut yang ditarik lurus ke garis tanah kemudian diteruskan ke P sebagai titik hilang. Memproyeksikan titik sebenarnya dapat melalui 4 cara seperti di bawah ini:
Cara kedua
Cara keempat
Gb.13. Proyeksi sebuah garis yang tegak lurus dengan garis tanah.
Untuk benda-benda yang memiliki dimensi tinggi perhatikan gambar di bawah ini. Garis ketinggian benda diukur dari garis tanah tepat pada perpanjangan garis benda di garis tanah. Ukuran garis tinggi benda diukur dengan ukuran sebenarnya
Sumber:
- Syafi,i. 2002. Proyeksi-Perspektif 1. Paparan Perkuliahan Mahasiswa.Semarang: UNNES Press.
- http://sumberilmu.info/2008/08/03/diktat-gambar-mistar/
Sabtu, 26 Maret 2011
BAB 3
Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.
Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.
Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.
bab 2
KRIYA NUSANTARA
Ketika Senjata para Dewa ''Disulap'' Jadi Benda Seni
Sejatinya, ajaran agama Hindu beserta simbol-simbol suci yang terkandung di dalamnya adalah "sumber tambang" mahaluas yang tak pernah tuntas untuk digali oleh seniman-seniman Bali. Dia adalah sumber inspirasi yang senantiasa menggerakkan tangan-tangan kreatif seorang seniman guna melahirkan karya-karya estetis penuh pukau. Senjata nawa sanga (senjata sembilan dewata - red) yang mengandung makna simbolik tameng bhuwana yang membentengi jagat raya di segenap penjuru mata angin (makrokosmos) pun tak luput dari ''jamahan''. Mengapa simbol-simbol suci tersebut disulap jadi benda seni? Adakah nilai jual yang terkandung di dalamnya?
Tubuh-tubuh binatang yang ditampilkan itu diangkat dari material lesung antik yang di balik dengan kandungan makna bahwa masyarakat telah melupakan sumber kehidupan awalnya dan mulai beralih pada sesuatu yang baru. "Lesung adalah yoni. Yoni adalah meme atau ibu. Ibu pertiwi adalah sumber kehidupan. Tanpa ada ibu pertiwi, niscaya tidak ada kehidupan berlangsung di dunia ini. Oleh sebab itu, ibu pertiwi harus dilindungi dan di-tamengi (dibentengi-red) sehingga kehidupan akan berjalan pada kodratnya," kata Suardana ketika memaparkan konsep karya seni kriya ciptaannya yang menjadi salah satu pemenang "Beasiswa Unggulan Peneliti, Pencipta, Penulis, Seniman, Wartawan, Olahragawan dan Tokoh" dari Biro Perencana dan Kerja Sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional kepada Bali Post, Jumat (17/1) kemarin.
Dalam penciptaan karya seni kriya mutakhirnya, Suardana mengaku tidak meniru karya yang telah ada. Tetapi, menciptakan sebuah karya seni kriya dengan sumber ide dari senjata nawa sanga dengan mengadakan berbagai pengolahan, baik bentuk, teknik dan gaya sehingga menjadi sebuah karya yang mencerminkan identitas individu. Tameng bhuwana berupa senjata nawa sanga itu diolah menjadi karya seni kriya dalam bentuk tiga dimensional dengan mengkombinasikan antara teknik pahatan, bubutan dan teknik lainnya tentunya dengan tampilan yang artistik dan menarik. "Sejak lama saya sudah terobsesi untuk mengabadikan keindahan bentuk senjata-senjata para dewa itu ke dalam karya-karya seni kriya saya," katanya.
Secara umum, katanya, karya-karya seni kriya yang diciptakannya lebih memunculkan penyederhanaan bentuk dari apa yang seharusnya diciptakan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk yang ada, baik senjata, binatang, sesajen dan sebagainya. Bentuk-bentuk senjata, binatang, dan sesajen yang ada sangat bebas dan tidak terikat oleh pekem-pakem yang ada. Namun, identitasnya masih sangat kuat. "Konsep minimalis ini sengaja dimunculkan untuk memberikan ruang ekspresi yang lebih leluasa sehingga karya ini layak dikategorikan sebagai karya murni," tegasnya.
Ketika Senjata para Dewa ''Disulap'' Jadi Benda Seni
=======================================================
Secara visual, bentuk-bentuk senjata para dewa itu memang sangat unik dan variatif serta sarat kandungan nilai estetis yang tinggi. Keunikan dan keartistikan dari bentuk senjata nawa sanga itu jelas sangat layak divisualisasikan ke dalam sebuah karya seni. Tentu saja dengan berbagai pengolahan sehingga menghasilkan karya seni yang original sebagai cerminan identitas pribadi seniman.
Keunikan dan keartistikan bentuk senjata nawa sanga itu pula yang dieksplorasi oleh seniman akademis Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. ke dalam "produk" seni kriya mutakhirnya. Di tangan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar ini, senjata-senjata para dewata seperti Cakra (senjata Dewa Wisnu), Trisula (Shambu), Bajra (Iswara), Dupa (Maheswara), Gada (Brahma), Moksala (Rudra), Nagapasa (Mahadewa), Angkus (Sangkara) dan Padma (Siwa) menjelma jadi karya seni kriya nan artistik. Senjata nawa sanga itu diekspresikan dalam bentuk tiga dimensional dengan media kayu jati. Beberapa bentuk senjata nawa sanga diolah dan dikembangkan serta dikomposisikan menjadi suatu adegan yang dilandasi oleh bentuk binatang yang merupakan kendaraan dari dewa-dewa yang menguasai penjuru dunia.
''Tameng Bhuwana''
Suardana menegaskan, sudah jadi tugas seorang seniman mengembangkan kreativitasnya dengan mencipta berbagai bentuk karya seni sesuai dengan bidangnya. Sebagai pertanggungjawaban visual, mencipta adalah eksistensi seorang seniman yang kreatif. Karya seni yang original menjadi tuntutan utama proses penciptaan sebagai cerminan identitas idividu. Dikatakan, konsep dan sumber ide yang melatarbelakangi proses penciptaan terkadang ada kesamaan antara seniman satu dengan lainnya. Namun, pengolahan estetis dengan teknik dan gaya yang berbeda akan melahirkan karya seni yang original. "Tanggung jawab moral seorang seniman adalah menciptakan karya seni yang original dan bukan karya seni yang imitatif," tegasnya sambil menambahkan, karya seni original adalah karya seni dengan proses kreatif yang melibatkan perenungan secara mendalam serta menghindari peniruan.
Suardana menambahkan, setiap aktivitas upacara keagamaan maupun adat di Bali merupakan suatu momen estetis yang luar biasa indah. Secara tidak langsung, momen estetis itu akan memberi rangsangan kepada seniman untuk menerjemahkannya menjadi sebuah karya seni yang artistik. Momen estestis itu terpancar baik dari prosesi upacaranya maupun sarana peralatan yang digunakan seperti halnya senjata nawa sanga yang merupakan bagian dari pengider bhuana. Secara konseptual, pengider bhuana merupakan dasar dari segala aktivitas upacara dan secara visual senjata nawa sanga selalu dimunculkan sebagai sarana upacara tersebut. "Aneka bentuk senjata nawa sanga selalu muncul baik dalam bentuk gambar pada tempat banten, tempat tirta, pada kober, umbul-umbul, kelapa muda dan juga divisualkan dalam bentuk sate maupun jajan. Di samping itu, senjata nawa sanga juga banyak dibuat dalam bentuk bebandrangan atau pengawin yang terbuat dari cetakan logam yang dilapisi dengan warna emas. Senjata nawa sanga dalam bentuk gambar pada sarana upacara sudah menjadi kewajiban bagi penggarap untuk menggambarnya apabila penggarap terjun ke masyarakat, ngayah dalam mempersiapkan sarana upacara. "Dengan seringnya bergulat dengan media tersebut, tanpa disadari saya menjadi sangat tertarik untuk mengabadikannya menjadi sebuah karya seni kriya dan mengangkat tameng bhuwana sebagai tema dengan metafora senjata nawa sanga sebagai objek visual," katanya sambil menambahkan, dalam karya seni kriya ini bentuk-bentuk senjata dideformasi yaitu dikembangkan dengan perubahan bentuk yang sangat kuat dari bentuk semula sehingga memunculkan karakter baru.
Suardana mengingatkan proses penciptaan yang dilakukannya dengan berbagai eksplorasi itu hanyalah sebatas sumber ide yang pengacuannya lebih banyak mengarah kepada bentuk. Nilai filosofis yang terkandung pada sumber ide itu hanya sebatas bayangan dasar nilai yang dikandung di dalamnya. "Dengan demikian, proses perwujudan karya seni dengan senjata nawa sanga sebagai objek visual ini penekanannya lebih kepada pertimbangan estetis sehingga kreativitas penggarap tidak terbelenggu oleh konsep yang sangat ketat," ujarnya.
Sumber Ide
Suardana tidak menampik, mengabadikan simbol-simbol suci keagamaan seperti senjata nawa sanga ke dalam karya seni merupakan hal yang cukup sensitif. Oleh karena itu, para kreator seni yang tertarik menggarap tema-tema seperti ini sangat dituntut kehati-hatiannya. Jangan sampai karya-karya yang secara visual itu sejatinya sangat estetik justru menimbulkan ketersinggungan umat. Yang terpenting lagi, penikmat seni harus jeli dalam memajang karya-karya seni beraroma religius seperti itu. "Meskipun ide dasar penciptaan karya seni kriya ini murni ditekankan pada aspek estetik semata, tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa terjadi. Bagi penikmat seni yang ingin mengoleksi karya-karya seperti ini, saya meminta lokasi pemajangannya dipertimbangkan dengan seksama. Jangan sampai dipajang di tempat-tempat yang tidak semestinya seperti toilet dan tempat-tempat tidak etis lainnya," katanya mengingatkan.
* w. sumatika
bab1
Materi Kesenian
>Seni terapan ( Aplied Art ) adalah seni yang menjadikan fungsi sebagai tujuan utama dimana kreativitas artistik hanyalah komponen yang melengkapinya .
2.Ornamen pada rumah2 adat
3.Gerabah atau keramik
4.Senjata2 tradisional seperti : keris , rencong , mandau dsb
5.Pakaian2 adat yang ada di nusantara : mulai dari Aceh sampai Papua.
>Pewarna alami untuk 5 warna primer :
Bisa didapat dari daun2an , batu bata , arang , getah .
Tentu saja ada sedikit proses pencampuran untuk mendapat warna yang di inginkan.
Contoh :
1.Batik2.Ornamen pada rumah2 adat
3.Gerabah atau keramik
4.Senjata2 tradisional seperti : keris , rencong , mandau dsb
5.Pakaian2 adat yang ada di nusantara : mulai dari Aceh sampai Papua.
>Pewarna alami untuk 5 warna primer :
Bisa didapat dari daun2an , batu bata , arang , getah .
Tentu saja ada sedikit proses pencampuran untuk mendapat warna yang di inginkan.
Seni rupa merupakan salah satu cabang seni yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap orang menghendaki memiliki rumah, perabotan rumah, dan busana atau pakaian yang bagus yang memerlukan unsur-unsur seni rupa. Dekorasi rumah baik interior maupun eksteior tidak bisa lepas dari sentuhan seni rupa. Lukisan, relief, patung dan seni terapan dapat digunakan untuk memperindah bangunan rumah atau gedung baik interior maupun eksteriornya.
Seni rupa telah berkembang sejak zaman lampau hingga masa kini yang melahirkan beraneka ragam corak serta mempunyai bermacam fungsi.
Seni rupa telah berkembang sejak zaman lampau hingga masa kini yang melahirkan beraneka ragam corak serta mempunyai bermacam fungsi.
Seni rupa kontemporer merupakan seni yang kemunculannya lebih dipengaruhi oleh waktu saat karya itu diciptakan (bersifat kekinian dan temporer). Tema yang diangkat dalam penciptaan karya seni rupa kontemporer tentang sesuatu yang berkaitan dengan masalah-masalah yang terjadi pada batasan waktu tertentu.
Kartika, putri dari pelukis terkenal Affandi. Karya besar Kartika, seperti “Wanita Dayak”, 1977, cat minyak, kanvas. Lukisan ini menunjukkan gaya yang berbeda dengan karya sesudahnya. Seniman ini merupakan direktur Yayasan Affandi.
Kartika, putri dari pelukis terkenal Affandi. Karya besar Kartika, seperti “Wanita Dayak”, 1977, cat minyak, kanvas. Lukisan ini menunjukkan gaya yang berbeda dengan karya sesudahnya. Seniman ini merupakan direktur Yayasan Affandi.
Seni instalasi diperuntukkan suatu karya seni yang terdiri-dari beberapa bagian dalam satu unit, karya-karya seperti ini biasanya mengandung pesan sosial. Seni instalasi juga dapat dimaknai sebagai karya seni yang terdiri atas komposisi dan manipulasi objek-objek untuk menyampaikan sebuah pesan.
Seni instalasi karya Agus Suwage dengan tema “Dongeng dari Bumi yang resah” merupakan hasil teknik campuran. Karyanya tersebut hasil komposisi dari beberapa lukisan yang menimbulkan keindahan baru.
Karya seni instalasi Krishna Murti yang dibuat tahun 1995, juga menunjukkan manipulasi objek-objek yang dikomposisikan pada suatu ruangan yang diberi tema “Let the rock be the rock”.
Contoh lain karya seni rupa kontemporer berupa lukisan pada bagian tubuh manusia, lebih dikenal dengan karya body painting. Melukis pada tubuh manusia juga merupakan seni manipulasi tubuh manusia, seniman berusaha menciptakan kesan baru pada bagian tubuh manusia, seperti manipulasi bentuk binatang, buah-buahan, bunga dan bentuk-bentuk imaginasi.
seni rupa terapan dari Mazgun
KEUNIKAN GAGASAN DAN TEKNIK
DALAM KARYA SENI TERAPAN DAERAH SETEMPAT
A. Karakteristik Seni Rupa dan Cabang-cabangnya
Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu. Bentuk karya seni rupa merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya.
Karya seni rupa dapat dibagi menjadi dua yaitu: karya seni rupa dua dimensi dan karya seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja. Contohnya, seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi, relief dan sebagainya. Karya seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi, atau karya yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh : seni patung, seni kriya, seni keramik, seni arsitektur dan berbagai desain produk.
Seni Rupa jika dilihat dari segi fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu seni murni (fine art) dan seni pakai / terapan (applied art). Seni murni adalah karya seni rupa yang dibuat semata-mata untuk memenuhi kebutuhan artistik. Orang mencipta karya seni murni umumnya berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan cita rasa estetik. Kebebasan berekspresi dalam seni murni sangat diutamakan. Yang tergolong dalam seni murni yaitu: seni lukis, seni patung, seni grafis dan sebagian seni kerajinan.
Seni Terapan atau seni pakai (applied art) adalah karya seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis. Contoh seni terapan yaitu:arsitektur, poster, keramik, baju, sepatu, dan lain-lain. Dalam pembuatan seni pakai biasanya faktor kegunaan lebih diutamakan daripada faktor keindahan atau artistiknya. Membuat karya seni terapan tampak lebih sulit dibandingkan karya seni murni. Hal itu mungkin karena membuat karya seni murni terasa lebih bebas dibanding membuat karya seni terapan karena tidak memperhitungkan fungsi. Akan tetapi sering pula terjadi sebaliknya, melukis bisa lebih sulit daripada membuat rumah tinggal.
B. Fungsi dan Tujuan Seni Rupa
Sebagai unsur budaya, seni hadir atau diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia baik lahir maupun batin. Sebuah unsur budaya akan tetap terpelihara keberadaannya jika unsur budaya tersebut masih berfungsi dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan betapa kita sangat membutuhkan sarana berekspresi dalam menikmati keindahan bentuk.
Berdasarkan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan manusia, seni dipilah menjadi beberapa kelompok.
1. Fungsi Individual
Manusia terdiri dari unsur fisik dan psikis. Salah satu unsur psikis adalah emosi. Maka fungsi individual ini dibagi menjadi fungsi fisik dan fungsi emosi.
a. Fisik
Fungsi ini banyak dipenuhi melalui seni pakai yang berhubungan dengan fisik, seperti; busana, perabot, rumah alat transportasi dan sebagainya.
b. Emosional
Fungsi ini dipenuhi melalui seni murni, baik dari senimannya maupun dari pengamat atau konsumennya. Contoh: lukisan, patung, film dan sebagainya.
2. Fungsi Sosial
Fungsi sosial artinya dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak dalam waktu relative bersamaan. Fungsi ini dikelompokkan dalam beberapa bidang.
a. Rekreasi / hiburan
Seni dapat digunakan sebagai sarana untuk melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan. Contoh: film, komedi, tempat rekreasi dan sebagainya.
b. Komunikasi
Seni dapat digunakan untuk mengkomunikan sesuatu seperti pesan, kritik, kebijakan, gagasan, dan produk kepada orang banyak. Contoh: iklan, poster, spanduk, dan lain-lain.
c. Edukasi / Pendidikan
Pendidikan juga memanfaatkan seni sebagai sarana penunjangnya, contoh; gambar ilustrasi pada buku pelajaran, poster ilmiah, foto dan sebagainya.
d. Religi / Keagamaan
Karya seni dapat dijadikan ciri atau pesan keagamaan. Contohnya; kaligrafi, arsitektur tempat ibadah, busana keagamaan dan sebagainya.
C. Seni Rupa Terapan Daerah Setempat
1. Seni Bangun / Arsitektur
Seni bangun merupakan salah satu hasil budaya masyarakat. Masyarakat Nusantara membuat bangunan dalam berbagai fungsi, yaitu tempat tinggal, lumbung padi, dan tempat beribadah. Di Jawa Tengah terdapat rumah Joglo yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sekaligus menjadi ciri khas budaya masyarakatnya. Demikian pula dengan masjid Demak yang struktur bangunannya sangat dekat dengan struktur rumah joglo.
2. Pakian Adat
Pengaruh budaya setempat juga sangat terlihat pada pakaian adat. Pada masa sekarang busana adat Jawa Tengah sering kita lihat pada upacara-upacara perkawinan Di Jawa Tengah pakaian adat menjadi pakaian resmi yang terpengaruh dari kalangan istana yang biasa digunakan untuk upacara kerajaaan atau upacara-upacara Keraton. Misalnya pada busana kenegaraan abdi dalem yang mengiringi kereta kuda Sultan Yogyakarta dan Surakarta dalam iring-iringan upacara. Busana tersebut berupa kaos kaki sutera, sepatu, gesper, dan jas beludru yang dihiasi dengan jalinan berpita emas. Busana adat Jawa Tengah mendapat pengaruh dari Eropa pada era Kolonial Belanda.
3. Wayang
Pertunjukan wayang di Indonesia bukan saja sebuah kesenian, melainkan juga sumber nilai. Wayang dalam perkembangannya sebagai sumber nilai, menyerap berbagai ajaran tentang penghormatan kepada alam, nenek moyang dan para dewa-dewi. Penghormatan itu dilakukan oleh manusia sebagai keinginan dasar untuk berhubungan dengan kekuatan adikodrati (supranatural), kepemimpinan dan kepahlawanan.Selain itu penghormatan semacam itu dilakukan sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan, dan juga hubungan manusia dengan manusia lain. Kesenian wayang umumnya memuat ajaran keagamaan dan kehidupan. Wayang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan konteks keagamaan dan zamannya. Pada masa penyebaran agama Hindu-Budha dan juga Islam dan Kristen, kesenian wayang selalu dimanfaatkan sebagai media yang popular dan efektif untuk dakwah keagamaan.
Meskipun sudah berkembang sejak masa Hindu-Buddha, kesenian wayang di Jawa mendapat sentuhan kreatif pada masa Islam. Sentuhan itu bukan saja terlihat dalam bentuknya melainkan juga pada tema-temanya. Meskipun begitu, wayang tetap mengandung pakem-pakem cerita utama, seperti Ramayana dan Mahabarata. Kesenian wayang di Jawa menjadi alas dakwah dan pendidikan paling efektif dan telah diterima masyarakat sehingga tetap hidup dalam berbagai bentuk perkembangannya sampai sekarang. Dari kesenian wayang yang bernafaskan Islam tersebut lahirlah sejumlah jenis wayang antara lain Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Kayu, Wayang Krucil,
Langganan:
Postingan (Atom)
