Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2011

Stalagtit dan Stalagmit

Stalagtit dan Stalagmit


Stalagtit dan stalagmit yang sering kita jumpai di goa-goa berasal dari senyawa CaCO3 dengan persamaan reaksi :

Proses-proses Geologi

Proses-proses Geologi

 
Berikut ini yaitu proses-proses yang mengkonsentrasikan logam dengan endapan mineral
1. Proses ortomagmatik
Proses ini yaitu meliputi pembentuk batuan beku dan bijih.

erosi

Erosi


Erosi di Amerika Serikat.
[[Berkas:NegevWadi2009.JPG|thumb|]Erosi di Israel.] Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang,

Sabtu, 26 Maret 2011

ASPEK-ASPEK GEOGRAFI


1. Oikumene dan Pemukiman
yaitu bagian dari bumi yang di huni manusia. Asal kata oikumene adalah oikos
yang artinya banyak, misalnya rumah (tempat tinggal), penghuni rumah
(keluarga) sampai rumah tangga (kebutuhan hidup penghuninya).
para ahli geografi meneliti mengapa manusia itu bertempat tinggal di daerah
tersebut? Ex: di dataran rendah, di dataran tinggi, dekat pantai,dekat hutan,
dekat daerah pertanian, dan lain-lain.
geografi dalam membahas pemukiman manusia, objeknya di wilayah perkotaan
dan pedesaan, Desa diartikan sebagai wilayah tempat tinggal penduduk yang
hidup dari proses produksi agraris. adapun kota yang merupakan konsentrasi
penduduk non agraris yang memiliki daya pakairuang lebih intensif(sumber : K.
Wardiyatnoko.2006. geografi untuk kelas X.jakarta:erlangga)
pemukiman yang merupakan tempat hunian manusia termasuk dalam aspek-
aspek geografi dimana didalamnya terdapat manusia dan aktifitasnya yang
terdapat pada ruang desa dan kota.
2.persebaran Penduduk
dapat diketahui dengan tiga cara 1. survei 2. registrasi 3. sensus, sehingga pada
tahun tertentu di suatu wilayah dapat dipetakan, sehingga seluk beluk
kepadatan penduduk yang dapat dilihat oleh pembaca peta, sehingga dapat
dilihat manakah wilayah-wilayah yang padat penduduknya, atau biasanya dalam
menganalisis hal tersebut dapat menggunakan PJ atau Foto udara.
3. Kepadatan Penduduk
dinyatakan dalam angka satuan jiwa untuk tiap luas wilayah (kepadatan
Aritmatik.
yang dipelajari adalah sejauh mana tanah sebagai sumber daya alam
dieksploitasi agar dapat didiami manusia secara tetap. seperti masalah gejala
kelebihan penduduk, atau kekurangan penduduk.(sumber : K.
Wardiyatnoko.2006. geografi untuk kelas X.jakarta:erlangga. jadi dalam aspek-
aspek geografi yang dimaksud arahnya adalah mengetahui kelahiran, kematian
dan migrasi.
KABUPATEN BOJONEGORO
Nilai PDRB (harga konstan) Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2005 sebesar Rp
4,4 trilyun rupiah atau naik sebesar 4,91 persen dari tahun sebelumnya. Dari
sembilan sektor dalam pembentukan PDRB, sektor pertanian memberikan
kontribusi terbesar (38,23%), berikutnya sektor perdagangan, hotel dan restoran
(22,50%), dan ketiga sektor jasa-jasa (16,44%).
Topografi wilayah menunjukkan bahwa di bagian Utara sepanjang daerah aliran
Sungai Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian
Selatan merupakan dataran tinggi di sepanjang kawasan Gunung Pandan,
Kramat dan Gajah. Untuk menanggulangi kekurangan air bagi keperluan
pengairan lahan pertanian di musim kemarau dilakukan pompanisasi untuk
menaikkan air dari Sungai Bengawan Solo. Pompanisasi ini tersebar di delapan
kecamatan yang meliputi 24 desa.
Untuk tanaman pangan, daerah ini banyak memproduksi padi, jagung, ubi kayu,
kedelai, dan kacang hijau. Klaster padi cocok dikembangkan di Kecamatan
Kepohbaru, Sumberejo, dan Balen. Klaster ubi kayu cocok dikembangkan di
Kecamatan Ngambon, Ngasem, dan Malo. Klaster kedelai cocok dikembangkan
di Kecamatan Ngraho dan Balen. Sementara sentra produksi jagung dan kacang
hijau terdapat di Kecamatan Ngasem.
Kabupaten Bojonegoro menghasilkan beberapa produk perkebunan, utamanya
tembakau, tebu, dan kelapa. Tembakau merupakan tanaman perkebunan
andalan bagi masyarakat petani di Kabupaten Bojonegoro. Dua jenis tembakau
yang diproduksi adalah jenis Virginia dan Jawa. Pada tahun 2005 areal tanaman
tembakau Virginia tercatat seluas 10.365 Ha dan tembakau Jawa seluas 474 Ha.
Dengan adanya penambahan luas areal tanam, produksi tembakau Virginia naik
35,77 persen, yaitu menjadi 8.676 ton pada tahun 2005. Sedangkan tembakau
Jawa yang areal tanamnya menurun terjadi pula penurunan produksi dengan
jumlah menjadi 498 ton pada tahun 2005.
Klaster tembakau Virginia (daun rajangan) cocok dikembangkan di Kecamatan
Kepohbaru dan Kanor. Sementara klaster tebu (kristal gula) cocok dikembangkan
di Kecamatan Margomulyo, Kalitidu, Purwosari, dan Padangan. Dan klaster
kelapa (kopra) cocok dikembangkan di Kecamatan Ngraho, Kapas, dan Malo.
me
Untuk subsektor peternakan, hasil produksi dari subsektor peternakan mencakup
daging, telur, dan susu diupayakan terus ningkat sehingga bisa menunjang
kebutuhan gizi masyarakat. Produksi daging dari pemotongan ternak besar dan
kecil sebanyak 3.024 ton daging, dan produksi daging dari ternak unggas
sebesar 7.604 ton daging pada tahun 2005. Pada tahun yang sama produksi
telur mencapai 3.183 ton, dan produksi susu sebanyak 36 ton.
Klaster peternakan Sapi sangat cocok dikembangkan di Kecamatan Tambakrejo,
Kedungadem, dan Ngasem. Klaster peternakan Kambing cocok dikembangkan di
Kecamatan Kedungadem dan Kalitidu. Klaster peternakan Domba sesuai untuk
dikembangkan di Kecamatan Sugihwaras, Kalitidu, dan Malo. Sementara klaster
peternakan Ayam Ras cocok dikembangkan di Kecamatan Kedungadem dan
Baureno. Sedangkan klaster Ayam Buras cocok dikembangkan di Kecamatan
Sugihwaras, Kedungadem, Baureno, dan Sumberejo.
Untuk kegiatan perdagangan, di Kabupaten Bojonegoro terdapat beberapa
sentra perdagangan. Daerah yang menjadi sentra perdagangan ini setidaknya
terlihat dari jumlah penerbitan Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) dan
Wajib Daftar Usaha. Berdasarkan kedua hal itu, sentra perdagangan terdapat di
Kecamatan Bojonegoro, Balen, dan Dnder.
Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu
fenomena baru yang mengejutkan. Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki
makna yang berbeda.
Interaksi wilayah (Spatial Interaction) adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara dua wilayah atau lebih, yang dapat melahirkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru, secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi ini berupa perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung atau berbagai media.
Istilah spatial interaction ini berasal dari Ullman dalam bukunya Geography as spatial
interaction (1954). Untuk mengidentifikasikan ketergantungan antar wilayah geografis.
Interaksi merupakan pengertian yang dikenal dalam sosiologi, sebagai gejala salingmempengaruhi antara individu. Dalam sosiologi gejala saling mempengaruhi tidak hanya berlaku pada individu melainkan juga pada obyek-obyek dan ruang yang mewadahi obyek- obyek itu. Sehubungan dengan itu dikenal tiga kelompok dasar yang saling mempengaruhi. Pertama, antara vegetasi dan iklim, tanah dan kawasan lahan; kedua, antara kegiatan manusia dan sifat politis-ekonomis suatu wilayah; ketiga adalah antar rumah tangga dan pertokoan.
Dalam geografi interaksi diartikan sebagai interaksi geografis antar satu wilayah dengan wilayah lain. Begitu juga halnya dengan kota satu dengan kita lainnya. Semakin banyak perbedaan yang ada maka peluang menciptakan interaksi antara ke duanya. Ullman meguraikan tiga unsure interaksi keruangan yang memberi pengaruh pada pola interaksi spatial
Permodelan yang dapat digunakan dalam melakukan analisis terhadap pola interaksi atau keterkaitan antardaerah atau antar bagian wilayah dengan wilayah lainnya, adalah Model Gravitasi. Penerapan model ini ini dalam bidang analisis perencanaan kota adalah dengan anggapan dasar bahwa faktor aglomerasi penduduk, pemusatan kegiatan atau potensi sumber daya alam yang dimiliki, mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan sebagai daya tarik menarik antara 2(dua) kutub magnet.
Kelemahan penerapan model ini dalam analisis wilayah, terutama terletak pada variabel yang digunakan sebagai alat ukur, dimana dalam fisika variabel yang digunakan, yaitu molekul suatu zat mempunyai sifat yang homogen, namun tidak demikian halnya dengan unsur pembentuk kota, misalnya penduduk. Namun demikian, hal ini telah dikembangkan, yaitu dengan tidak hanya memasukan variabel massa saja, tetapi juga gejala sosial sebagai faktor pembobot.
Persamaan umum model Gravitasi ini adalah :
Pi xPj
Tij--------------- =
P
dimana :
Tij = pergerakan penduduk sub-wilayah i ke sub-wilayah j
Pi = jumlah penduduk sub wilayah i
Pj = jumlah penduduk sub wilayah j
P= jarak antara sub wilayah i –sub wilayah j
Penerapan model grafitasi pada interaksi sosial diperkenalkan oleh Reilly pada tahun 1929 dalam perniagaan. Para geograf pada abad ke-19 telah memakai hukum grafitasi Newton (1687).
Adapun bintarto (1983) menerapkan model grafitasi untuk empat kotamadya di jawa tengah dan DI Yogyakarta, Surakarta, Salatiga dan Magelang, yang lokasinya mengelilingi kompleks gunung kembar Merapi-
Merbabu. Dengan sarana model segi empat ini Bintarto mengukur
interaksi sosial keempat kota tersebut, hasilnya adalah sebagai berikut:
Model grafitasi interaksi antara ke empat kotamadya
Jumlah penduduk kota;
Yogyakarta (Y) = 398.192 orang
Surakarta (S) = 462.825 orang
Salatiga (Sa) = 85.740 orang
Magelang (M) =123.358 orang
Jarak terdekat antara ke empat kota;
Yogyakarta (Y) - Surakarta ( Su) = 60 km
Surakarta (S) - Salatiga (Sa) = 42 km
Salatiga (Sa) - Magelang (M) = 40 km
Magelang (M) - Yogyakarta (Y) =41 km
Maka diperoleh angka-angka interaksi;
I(Y- Su) = 51
I(Su-Sa) = 22
I(Sa-M) = 7
I(M-Y) = 29
Hasil perhitungan diatas menyatakan Surakarta dan Yogya sebagi kota yang memiliki interaksi terbesar (I = 51) artinya frekuensi hubungan sosial, ekonomi dan sebagainya antara kedua tempat tersebut tettinggi jika dibandingkan dengan interaksi antar kodya lainnya. Meski jarak antara keduanya adalah jarak terpanjang dibandingkan jarak Magelang- Salatiga, hal ini dikarenakan dua kodya tersebut merupakn kota budaya dan kota pelajar, jalan yang menghubungkan kedua kota memudahkantransferabilitas disamping jumlah penduduk yang besar pula.
2. Simpulan
Rumusan diatas secara tidak langsung menggambarkan bahwa gaya tarik dua kota di
buktikan dengan adanya mobilitas ataupun bentuk interaksi lain penduduk dari satu wilayah
ke wilayah lain. Daya tarik kota yang kuat akan menarik interaksi yang besar ke dalam
wilayah kota yang bersangkutan.
Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan potensi yang dimiliki desa maupun kota, dan adanya persamaan kepentingan. Unsure-unsur kota juga berperan penting dalam timbulnya daya tarik antar kota, factor fisiogafis,sosial,ekonomi ,teknologi kota yang berbeda satu samalain akan memunculkan suatu interaksi yang mengakibatakan daya tarik antar keduanya. Adanya komplementaritas antar kota akan semakin memperkuat daya tarik antar kedua kota, hal ini juga didukung oleh transferbilitas yang dapat tercipta antar keduanya. Semakin besar tranferbilitas yang terjadi maka dapat dikatakan daya tarik antar kota tersebut sangat kuat, jarak dalam hal ini dapat diatasi dengan pembnagunan akses jalan yang baik, untuk mendukung kelancaran interaksi keduanya.
Daftar pustaka
Daldjoni. N. 1998. Geografi kota. Bandung.PT Allumni.
Hariyono. Paulus. 2007. Sosiologi kota untuk arsitek. Jakarta. PT Bumi
Aksara.

GUNUNG MERAPI

Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.[rujukan?] Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes).[1]

Daftar isi

 Geologi


Litografi sisi selatan Gunung Merapi pada tahun 1836, dimuat pada buku tulisan Junghuhn.
Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.[2]
Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya.[3] Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap.[4] Tahap pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 - 8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000 - 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.
Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.[2]
Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara "signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[5] Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia[6].

Puncak Merapi pada tahun 1930.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat di tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[rujukan?] Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.[rujukan?]
Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872[7] dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010)[8], meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20-30 km.
Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.

[sunting] Erupsi 2006

Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.
Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.
1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini. [9]
8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman. [10]

Erupsi 2010

Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.[11] dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernafasan.
Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.[12] Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.
Namun demikian, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung,[13] dan Bogor.[14]
Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus "awas" (red alert). [15][rujukan?]
Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.[16]

Vegetasi

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika.
Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.

Rute pendakian

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar lima jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

BAB 1

Gempa bumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pusat-pusat gempa di seluruh dunia pada tahun 1963-1998.
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.